Sabtu, 03 Juli 2010

Sengsara membawa nikmat

SINOPSIS
SENGSARA MEMBAWA NIKMAT
( Karya Tulis Sutan Sati)

Di sebuah kampung yang terletak di lembah yang tidak jauh dari Bukittinggi, ada seorang pemuda yang bernama Midun. Midun seorang pemuda berusia 20 tahun, anak seorang petani dari kalangan rakyat biasa. Ia berwajah tampan dan gagah. Tingkah lakunya sangat baik, tutur katanya sopan dan santun sehingga ia sangat disukai oleh banyak orang.
Karena kebaikannya itu, maka ada seorang pemuda yang tidak menyukainya yaitu Kacak, kemenakan dari Tuanku Laras, raja di negeri itu. Kacak seorang pemuda yang sombong, congkak sehingga banyak orang yang tidak menyukainya. Warga menghormati dia bukan karena perilakunya melainkan karena derajatnya sebagai keturunan bangsawan.
Meskipun satu kampung, namun sejak kecil Kacak dan Midun selalu bermusuhan. Rupanya permusuhan tersebut tidak juga padam sampai mereka dewasa. Kacak iri hati terhadap Midun yang selalu dihormati dan disukai oleh orang-orang di sekelilingnya. Peristiwa itu berawal ketika mereka kenduri di masjid, Kacak tidak senang melihat hidangan yang menumpuk di hadapan Midun. Kemudian saat bertanding sepak raga mereka bertengkar karena Midun bermain sangat bagus sehingga orang-orang menertawakan Kacak yang tidak dapat bermain dengan baik. Sejak itulah Kacak mulai menganggap Midun adalah musuhnya.
Oleh karena itu, Kacak berusaha mencari cara untuk membalaskan dendamnya kepada Midun. Pada suatu hari ada orang gila mengamuk di pasar, dan hampir membunuh seorang perempuan. Midun tak bisa tinggal diam melihat hal tersebut. Bergegas ia menolong perempuan itu dan berusaha merebut pisau yang digengamnya untuk mengamuk. Orang gila itu tersungkur dan terluka sedikit. Kacak mengambil kesempatan ini untuk melangsungkan niatnya balas dendam terhadap Midun. Kacak melaporkan Midun kepada Tuanku Laras dengan memfitnahnya. Lalu Midun dipanggil oleh Tuanku Laras dan diberi hukuman untuk merumput dan jaga malam selama enam hari.
Selang enam hari, Midun bebas. Lalu dia berniat pergi ke sungai untuk mandi. Tiba-tiba air pasang dengan derasnya. Ternyata ada seorang perempuan hanyut terbawa arus dan berteriak-teriak minta tolong. Midun mendengar teriakan itu, lalu ia bergegas menolong perempuan tersebut yang tak lain adalah istri Kacak. Mengetahui hal itu Kacak semakin benci kepada Midun. Lalu berkelahi dengan Midun yang akhirnya yang sampai terdengar oleh Tuanku Laras. Midun diadilidan dijatuhi hukuman untuk meronda selama enam malam.
Ketika hukuman sudah selesai, Midun dan temannya yang bernama Maun pergi ke Padang untuk melihat pasar malam. Kacak yang masih tersulut api dendam, berusaha melancarkan aksinya untuk balas dendam. Ia membayar dua orang suruhannya yaitu Lenggang dan temannya untuk membunuh Midun di pacuan kuda. Ketika sedang asyik menonton pacuan kuda, Lenggang dan temannya tiba-tiba menyerang dan meneriaki kalau Midun adalah pencuri. Akhirnya semua orang berkumpul dan menyerang Midun. Namun tak lama kemudian datang polisi yang melerai perkelahian mereka. Midun dan Lenggang dibawa ke kantor polisi untuk diadili.
Tibalah keputusan Jaksa bahwa Midun akan dipenjara selama empat bulan di Padang. Di dalam penjara ia selalu mendapat cobaan. Namun ia selalu tabah menghadapinya.
Pada suatu saat ketika ia sedang menyapu di halaman penjara, tiba-tiba ia melihat kalung berlian. Sejenak hatinya berpikir ingin menjualnya, tapi ia tersadar bahwa itu bukan miliknya maka ia harus mengembalikan pada yang punya. Midun berpikir kalau berlian tersebut adalah milik gadis yang telah duduk di bawah pohon kenari.
Kemudian dari kejauhan, Midun memperhatikan di mana gadis itu tinggal. Lalu Midun datang ke rumah gadis itu dan mengembalikan kalung berlian yang ditemukannya. Rupanya gadis yang bernama Khalimah itu amat senang hatinya karena kalungnya yang hilang telah dikembalikan. Untuk membalas budi, keesokan harinya Khalimah datang ke penjara untuk mengirim rantang yang berisi nasi untuk Midun. Midun menolak pemberiannya, namun Khalimah tetap memaksa agar menerimanya.
Akhirnya, masa hukuman Midun sudah selesai. Namun tiba-tiba ia menerima surat dari Khalimah yang minta tolong untuk diselamatkan dari pemerkosaan ayah tirinya dan orang Tionghoa. Akhirnya Midun tidak jadi pulang kampung dan berniat ingin menolongnya. Setelah bertemu dengan Khalimah, Midun diajak mengantarkan Khalimah ke rumah ayah kandungnya di Bogor.
Setelah dua bulan di Bogor, Midun pergi ke Betawi untuk mencari kerja. Dalam perjalanan, ia bertemu dengan seorang pedagang dari Arab yang bernama tuan Abdullah. Midun diajari berdagang dan diberi modal olehnya. Midun sangat percaya pada Tuan Abdullah. Namun tanpa disadari, ternyata ia tertipu oleh Tuan Abdullah dan harus membayar hutang Rp 500,00 padahal hutangnya hanya Rp 250,00. Midun menolak untuk membayar hutangnya. Akhirnya tuan Abdullah menjebloskan Midun ke penjara.
Khalimah dan ayahnya yang mendengar hal tersebut, bergegas mendatangi Midun dan membujuknya agar ia mau melunasi hutangnya kepada tuan Abdullah. Berkat bujukan Khalimah Midun bersedia membayar hutangnya.
Selama di penjara ia diajari menulis dan membaca oleh salah seorang teman tahanan. Akhirnya setelah dipenjara selama dua bulan, Midun dibebaskan. Lalu ia berjalan-berjalan ke pasar Senen. Sesampainya di sana ia bertemu dengan temannya yang bernama Salekan. Lalu mereka pergi ke pasar Baru.
Dalam perjalanannya Midun meceritakan kisahnya selama di penjara. Ketika sedang asyik berbicara, tiba-tiba mereka melihat keributan mendengar teriakkan bahwa ada serdadu sedang mengamuk. Midun terkejut ketika melihat serdadu sedang mengejar-ngejar Sinyo yang baru berusia dua belas tahun, keturunan bangsawan Belanda. Melihat Sinyo tak berdaya Midun berteriak agar Sinyo berhenti dan berlindung di belakangnya. Serdadu tersebut lalu menyerang Midun menggunakan pisau dengan ganasnya. Namun Midun selalu berhasil menangkis serangan tersebut sampai akhirnya serdadu itu berhasil diringkus dan diserahkan kepada Hoofdcommissaris.
Mendengar cerita dari Sinyo, Hoofdcommissaris yang ternyata adalah ayah dari Sinyo, sangat berterima kasih kepada Midun. Sebagai ucapan terima kasihnya, Midun diangkat sebagai juru tulis di kantornya. Tidak lama kemudian Midun ditugaskan menjadi mata-mata penyelundup candu di pelabuhan.
Setelah Midun mendapat gaji yang pertama ia langsung memberi kabar pada Khalimah bahwa ia sudah bekerja. Beberapa waktu kemudian, Midun melamar dan menikahi Khalimah. Lalu Khalimah diajaknya ke Betawi untuk tinggal bersama.
Karena keuletan dan kepandaian Midun bekerja sebagai menteri polisi maka ia sangat terkenal dan sangat disegani di Tanjungpriuk. Sekitar enam bulan ia bekerja di Tanjungpriuk kemidian ia dipindah ke Weltevreden. Setelah bekerja di sana ia ditugaskan ke Medan bersama teman mata-mata untuk menyelidiki penyelundupan candu. Ternyata di sana aman-aman saja, kemudian mereka kembali ke Weltevreden.
Dalam perjalanan pulang ia bertemu dengan seorang gadis yang tak lain adalah adiknya yang bernama Manjau. Mereka saling bercerita tentang kehidupannya masing-masing. Midun terperanjat dan sedih mendengar kabar bahwa ayahnya sudah meninggal karena sedih ditinggal pergi oleh Midun. Setelah sampai di Betawi, Manjau yang ternyata sedang mengidap penyakit, diobati sampai sembuh. Kemudian setelah sembuh, dia dipekerjakan di kantor Midun sebagai juru tulis.
Namun beberapa hari terakhir, Midun sedih memikirkan ibu dan adiknya yang bernama Juriah. Akhirnya ia berunding dengan istrinya, bahwa ia ingin pindah kerja ke Padang. Setelah Midun mendapat izin dariHoofdcommissaris, ia pindah kerja ke Bukittinggi kampung halamannya sebagai asisten Demang.
Orang-orang di kampung sangat senang melihat Midun sudah kembali dan bekerja sebagai Asisten Kademangan. Semua orang menyambutnya dengan gembira dan bersalaman dengan Midun. Kacak yang turut hadir, ikut menyalami juga. Namun ia menunduk malu dan ketakutan karena teringat ulahnya pada Midun dulu.
Singkat cerita, keesokan harinya Midun dan pamannya Datuk Paduka Raja membicarakan masalah gelar pusaka Datuk Paduka Raja agar digantikan oleh Midun. Seminggu kemudian Midun menjadi penghulu yang bergelar Datuk Paduka Raja. Oleh sebab itu Midun merayakan hal tersebut, kemudian ia memerintah negerinya dengan baik. Berkat kesabaran dan ketabahan dalam mengahadapi segala cobaan akhirnya Midun hidup bahagia.
Sementara itu, Kacak musuh Datuk Paduka Raja dahulu yang sangat bengis terjerat kasus penggelapan uang belasting. Akhirnya ia ditangkap polisi di Lubuksikaping kemudian dibawa ke Bukittinggi dan dimasukkan ke penjara selama dua tahun.


*** SELESAI ***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar